Kamis, 05 Januari 2012

CERPEN SEDERHANA

CINTAI AKU DENGAN SEDERHANA 


            Rintikan hujan seolah mengajakku berbicara namun kesedihan yang dalam tidak mampu tuk berkata padanya, gemericik air hujan yang berusaha menghiburku dengan nyanyian sumbangnya membuat mataku berkaca                                                                                                                       
        Ku kedipkan mataku yang serasa penuh dengan air, tetesan air satu-persatu keluar melarikan diri yang tak mau tau dengan perasaanku yang sedih memikirkan sisah umurku berada di sekolah ini. Disilah aku mengenal Irul sahabat yang selama ini selalu menemaniku ketika aku dalam kesedihan maupun kebahagiaan, organisasi sekolah lah yang telah mempertemukan aku dengannya, baik organisasi OSIS dan KIR menghantarkan kami menjadi sahabat yang tak terpisahkan bahkan sampai detik ini.
Namun yang sangat menyakitkan bagiku adalah dia akan meninggalkan kota Metro memenuhi sebagian keinginannya yang terwujud. Dia akan melanjutkan ke peguruan tinggi negri dengan tanpa test di kota solo kota impiannya, aku sendiri sampai saat ini masih belum ada langkah pasti kemana kakiku akan berpijak.

Ghotak Gathuk Matuk Seng Penting Enek maknane

Ghotak Gathuk Matuk Seng Penting Enek maknane
(otak atik cocok yang penting ada maknanya)
AKSORO DJOWO

Buat kita orang jawab pasti tau dong huruf jawa ?..kebangeten kalo tidak tau okelah kalo begitu setidaknya pernah dengar dan pernah tau to? Setelah aku baca baca di webblog dibuku dan di referensi lain aku menemukan suatu yang unik tentang huruf hruf jawa yang ternyata punya pola dan serat makna yang bermanfaat.
Memang agak sulit jika kita menghafal aksara jawab jika kita tidak sungguh sungguh mempelajarinya,, he,he,,,,,, seperti saya juga  karena menghafal huruf dengan pengurutan konfensional itu agak rumit. Urutan konfensionalnya itu adalah sebagai berikut : “HaNaCaRaKa…….DaTaSaWaLa…….PaDhaJaYaNya……MaGaBaThaNga”  huruf jawanya bisa dilihat di gambar diatas maaf ya kecil, jangan salah huruf jawa ini juga penuh dengan filosofi lho, salah satunya yang pernah ditulis oleh Ki Hajar Dewantara yang bisa di cari di wikimedia, kita mulai aja yuk bahas menurut beliau

Sabtu, 03 Desember 2011

JANGAN SAMPAI KITA JATUH KARENA KESOMBONGAN



            Ada sebuah kisah suatu hari Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, "Apa yang sedang Anda lakukan?" Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya." Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih- benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor   
         MATERI. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain. Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh factor

Selasa, 08 November 2011

edelwaise


Bunganya putih berseri, sedap elok di pandang mata, bergumul menjadi satu, tanda persahabatan di antaranya. Semampai indah wujudnya, ternyata menyimpan begitu banyak hikmah untuk kita, untuk makhluk yang Allah ciptakan sebagai penjaga alam semesta. Karena itu, mari kita belajar dari Edelweis… Edelweis, sebuah bunga yang di sebut-sebut sebagai bunga abadi, ternyata Allah meyimpan banyak hikmah untuk manusia di dalamnya. Edelweiss, putih kecil, tak terlalu harum, namun tak mengurangi kecantikannya. Setiap bunganya yang gugur dan jatuh menyentuh tanah, dengan izin Allah, bunga tersebut akan tumbuh kembali menjadi satu pohon Edelweiss yang baru. Selain itu, bunga ini ketika dikeringkan, tahannya lebih lama dibandingkan dengan bunga yang lain. Keunikannya ini yang menjadikannya mendapat julukan ‘The Immortal Flower’ atau ‘Bunga Abadi’. Bunga ini mampu hidup dengan suhu di bawah 18 derajat celcius. Dengan suhu serendah itu, banyak orang menggigil tak karuan, berusaha mencari tempat paling hangat untuk beristirahat, atau bahkan, secara tidak sengaja seseorang berkeluh kesah dengan mengatakan “sialan! Dingin banget si di sini!!”. Namun tidak si kecil Edelweiss, tetap mensyukuri nikmat Sang Pencipta di tempat ia tumbuh. Dia tetap tumbuh dengan terus menebar keindahan tak peduli apapun keadaan di sekitarnya, dinginkah, panaskah, dia tetap memiliki keyakinan kepada Allah, bahwa keadaan di sekitarnya itu tak menjadikan dirinya takluk, karena dia memiliki sandaran yang kuat, dia memiliki Tuhan yang Maha Besar, Allah swt Seperti itulah seharusnya manusia! Menjadi manusia yang selalu yakin akan Allah, Tuhan-nya. Edelweiss mengajarkan kita untuk senantiasa bangkit dari keterpurukan. Gugurnya sehelai Edelweiss, mampu menghasilkan puluhan bunga yang sama atau bahkan jauh lebih indah dari sebelumnya. Begitulah seharusnya kita manusia dalam menghadapi keterpurukan di dalam hidup kita. Berapa kalipun kita gagal, jangan pernah anggap itu sebagai kegagalan, jadikan itu sebuah penemuan, penemuan ‘cara yang salah’. Karena seorang penemu tak pernah langsung berhasil dalam percobaannya, mereka juga pernah gagal, tapi mereka menganggap kegagalan mereka adalah penemuan ‘cara yang salah’, bukan penemuan ‘kegagalan’. Dan kita harus meyakini, bahwa kita akan dan pasti, menemukan suatu ‘cara yang benar’ untuk menghadapi permasalahan yang Allah ujikan. kita sering berada di bawah roda kehidupan, ketika kondisi kita seperti itu, sungguh indah jika kita menjadi seperti Edelweiss yang gugur, dia bisa tumbuh kembali menjadi bunga, mengapa kita manusia yang ‘gugur’ dalam ujian-Nya, tak mampu bangkit kembali menjadi manusia yang memiliki ‘bunga’ yang indah? Seandainya kita memiliki kelebihan yang Allah berikan, maka yakinlah, ada kekurangan dalam diri kita. Jangan pernah sombongkan kelebihan itu di hadapan orang lain. Jadilah seperti Edelweiss, dia memiliki keindahan dengan keabadiannya, namun dia memiliki kekurangan, yaitu harumnya tak semerbak seperti bunga yang lainnya. Bunga se-indah Edelweiss pun memiliki kekurangan, maka, manusia se-‘indah’ apapun, pasti memiliki kekurangan, karena itu, jangan pernah sombong dengan apa yang kita miliki saat ini. Banyak anak yang tamak dengan ilmu yang dia miliki, sampai-sampai tanpa sadar menyakiti perasaan temannya dengan kesombongan yang dia lakuan, entah sengaja atau tidak. Banyak juga anak muda, yang sombong dengan hartanya, di pamerkan ke segala penjuru, agar teman-temannya mengetahui bahwa dia anak yang berkecukupan, atau bahkan kelebihan harta. Ingatlah teman, semua itu akan sirna seiring berjalannya waktu. Ingatlah teman, aku dan kalian memiliki ‘borok’ yang hanya Allah saja yang tahu. Ingatlah selalu teman, aku dan kamu di ciptakan seideal mungkin, seimbang antara kelebihan dan kekurangan. Terkadang aku berfikir, jangan-jangan apa yang aku anggap dalam diriku ini suatu kelebihan, ternyata itu adalah kelemahan besar di mata Allah. Pernahkah kalian fikirkan itu?. Namun sekarang, yang aku fikirkan adalah jangan pernah merasa malu dengan kekurangan yang kita punya, sekali lagi jadilah seperti Edelweiss, dia menjadikan kelebihannya untuk menjadi sebuah pemandangan yang indah, kembali sejuk hatinya, dan tersenyum kembali wajahnya. Jadikan kelebihan kita untuk membuat orang lain tersenyum, bukan membuat orang lain merasa sakit hati, atau kecewa. Ketika kita berada di atas roda kehidupan,, ingatlah Edelweiss, dia akan gugur setelah berkembangnya, dia pernah berada di atas, dan juga pernah berada di bawah. ingatlah, tak selamanya kita berada di atas, karena pasti kita akan mengalami berada di bawah. Tak selamanya kita menang. Pasti ada kalanya kita mengalami keterpurukan. ketika kita berada dalam keterpurukan,ingat kalimat ini, takkan pernah ada kebangkitan, kalau tidak ada keterpurukan. Wallahu a’lam