banyak mengaku peduli banyak mengaku mengerti justru mereka yang menggrogoti merusak mencerca
Selasa, 08 November 2011
keinginan untuk memajukan tanpa penindasan dan pemaksaan: PENDAKIAnKUdari bawah aku berharap aku akan sampai...
keinginan untuk memajukan tanpa penindasan dan pemaksaan: PENDAKIAnKUdari bawah aku berharap aku akan sampai...: PENDAKIAnKU dari bawah aku berharap aku akan sampai dalam puncak yang megah dan indah beban dipundakku menemani stiap iringan langkahku kab...
PENDAKIAnKU
dari bawah aku berharap aku akan sampai dalam puncak yang megah dan indah
beban dipundakku menemani stiap iringan langkahku
kabut putih lembut dan dingin yang tak pernah bisa aku raba pun ikut mengiringi dalam setiap jejaku
memberi rasa dingin tubuh yang sudah merasa lelah dan putus asa untuk menggapai tujuan awal yang ada
keringat pun ikut memberi hasrat dan seakan berkata engkau sudah lelah lihatlah rasa dingin yang ada pada tubuhmu sudahlah dan turun cukup sampai disini
batu dan tanah yang aku injak ini pun ikut tersenyum seakan mengiyakannya.
sabana,pohon,dan dahan juga kabut memberiku harapan dan berkata juga
naiklah dan terus naik jangan berhenti sampai disini saja karena sia sia saja pengorbananmu
liatlah diatas sana kau akan mendapatkan yang maha indah dan besar
dengan smangat dan sisa peluh yang terus membuatku sakan hipoterimia tetap ku ayunkan langkah
dengan bangga aku b erteriak aku berhasil aku bisa
subhanallah memang benar indah matahari terbit dibalik awan merah kekuningan langit biru yang luas dan awan putih seakn ada di atas kakiku
sujudku akan kebesaranmu di puncak mahameru
Sabtu, 05 November 2011
KEKUATAN AIR MATA
Oleh M. Arif As-Salman
Ia hadir hampir dalam setiap denyut nadi gerakan dan aktivitas mahasiswa. Penampilannya sederhana. Sikapnya santun. Mudah tersenyum. Suka menyapa, perhatian, dan ringan tangan. Saya baru mengenalnya ketika mengikuti sebuah acara seminar. Ia tampil sebagai pemateri. Air mukanya yang jernih dan tenang telah mampu menarik perhatian setiap pendengar. Untaian kata-katanya yang lembut, jelas dan tepat semakin menjadi daya tarik tersendiri bagi semua orang. Kata-katanya penuh ilmu dan hikmah. Bahkan candanya sekalipun tak kosong dari ilmu dan hikmah. Sehingga kesempatan bisa duduk dan ngobrol dengannya menjadi kesenangan tersendiri bagi saya.
Sangat gemar membaca, tak jarang setelah seharian kuliah ia sering ditemukan asyik menikmati buku-buku di Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK). Full aktivitas, kegiatannya hampir tak terputus dan tanpa henti. Kendati demikian ia tidak pernah kehilangan kesempatan shalat berjamaah di mesjid, takbir pertama bersama imam. Walau sibuk, ia tak lupa menyempatkan diri bermesraan dengan mushâf saku yang selalu ia bawa. Ia selalu tampak kuat, bersemangat dan bisa menyelesaikan setiap pekerjaan dengan baik. Kebaikan yang ada pada dirinya mendorong saya untuk ingin lebih dekat mengenalnya. Saya ingin mengetahui apa yang menjadi rahasia kekuatan semangat, ketenangan dan kejernihan hati dan pikirannya.
Menurut salah seorang teman yang tinggal serumah dengannya, bahwa ia sering kedapatan menangis. Ya, ia sering ditemukan terisak menangis. Ketika ditanya kenapa ia menangis, ia berkata, "Akhi, kita hidup di dunia hanya sebentar, kematian datang kapan saja, setiap amal kita akan dihisab dan saya tidak tahu apakah kelak di akhirat saya akan tergolong menjadi ahli sorga ataukah neraka."
Suatu kali ketika shalat subuh berjamaah, saya berdiri di sampingnya. Dan saat itu imam membaca ayat, "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang. Maka dia akan berteriak, "celakalah aku". Dan dia akan masuk kedalam api yang menyala-nyala(neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira dikalangan kaumya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya." (Al-Insyiqâq: 10-15 ). Saya mendengar ia menangis sejadi-jadinya, saya seakan-akan mendengarkan air mendidih dari rongga dadanya.
Seusai shalat, saya melihat tangisan itu masih membekas di wajahnya. Hatinya begitu lembut, begitu mudah tersentuh dengan Al-Qur`ân.
Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulu kita, para Al-Salafus Sâlih. Menurut suatu riwayat, jika mengerjakan shalat subuh, Umar Ra. sering membaca surat Al-Kahfi, Thaha dan surat-surat lain yang sama panjangnya dengan surat itu. Pada saat itulah Umar Ra. sering menangis sehingga tangisannya terdengar ke barisan belakang. Pada suatu ketika dalam shalat subuh , Umar Ra. membaca surat Yusuf, ketika sampai pada ayat, "Sesungguhnya hanya pada Allah saya mengadukan kesusahan dan kesedihanku. " ( Yusuf : 86 )
Umar Ra. menangis terisak-isak sehingga suaranya tidak lagi terdengar ke belakang. Terkadang dalam shalat tahajudnya Umar Ra. membaca ayat-ayat Al-Qur`ân sambil menangis sehingga ia terjatuh dan sakit. Inilah perasaan takut pada Allah seorang yang apabila disebut namanya saja, akan menggetarkan dan membuat takut hati raja-raja besar.
Rasulullah Saw. bersabda, "Akar dari kebijaksanaan adalah takut kepada Allah."
Suatu hari Rasulullah Saw. melewati seorang sahabat yang sedang membaca Al-Qur`ân, ketika sahabat tadi sampai pada ayat, "Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah seperti kulit yang merah." (Ar-Rahman: 37), maka bulu pembaca tadi berdiri tegak dan dia menangis terisak-isak dan berkata, "Aduh, apakah yang akan terjadi pada diriku apabila langit terbelah pada hari kiamat? Sungguh malang nasibku." Nabi berkata padanya, "Tangisanmu membuat para malaikat ikut menangis bersamamu."
Abdullah bin Rawahah salah seorang sahabat Rasulullah Saw., pada suatu hari menangis dengan sedihnya, melihat keadaan itu istrinya pun turut menangis bersamanya. Dia bertanya pada istrinya, "Kenapa engkau menangis?" istrinya menjawab, "Apa yang menyebabkan engkau menangis, itulah yang menyebabkan saya menangis." Abdullah berkata, "Ketika saya ingat bahwa saya harus menyeberangi neraka melalui shirat, saya tidak tahu apakah saya akan selamat atau tidak."
Rasulullah Saw. bersabda : "Wajah yang dibasahi air mata karena takut pada Allah walaupun sedikit akan diselamatkan dari api neraka." Beliau juga bersabda, "Jika seseorang menangis karena takut pada Allah maka dia tidak akan masuk neraka, seperti tidak mungkinnya air susu masuk kembali ke putingnya."
Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw., "Adakah diantara pengikut-pengikutmu yang akan masuk surga tanpa hisab?", "Ia" jawab Nabi. "Dia adalah orang yang banyak menangis karena menyesali dosa-dosa yang telah ia lakukan."
Dalam kesempatan lain Rasulullah Saw. bersabda, "Ada dua jenis tetesan yang sangat disukai oleh Allah, tetesan air mata karena takut pada-Nya dan tetesan darah karena perjuangan di jalan-Nya."
Sungguh masih banyak lagi riwayat yang menjelaskan penting dan bermanfaatnya menangis karena takut pada Allah Swt. sambil menyesali dosa-dosa dan mengingat kebesaran Allah. Dan kisah-kisah diatas adalah suatu teladan bagi kita.
Ternyata air mata tidak selamanya menjadi simbol kelemahan, di dalamnya justru terdapat kekuatan, ada daya rubah yang luar biasa. Dengannya banyak pekerjaan besar bisa diselesaikan secara optimal. Terutama saat-saat bersama Al-Qur`ân, disaat sendiri mengingat dosa dan kesalahan.
Marilah kita melihat diri kita yang bergelimang dengan noda dan dosa, diri yang tidak pernah merasa takut dengan siksa Allah. Mata yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah menangis karena takut pada Allah. Dan mari kita hitung, sampai detik ini, sudah berapa kali air mata kita menetes karena takut pada Allah? Karena mengingat dosa-dosa dan kesalahan kita dan karena mengingat siksa-Nya. Wallâhul musta`ân wa a`lam
Ia hadir hampir dalam setiap denyut nadi gerakan dan aktivitas mahasiswa. Penampilannya sederhana. Sikapnya santun. Mudah tersenyum. Suka menyapa, perhatian, dan ringan tangan. Saya baru mengenalnya ketika mengikuti sebuah acara seminar. Ia tampil sebagai pemateri. Air mukanya yang jernih dan tenang telah mampu menarik perhatian setiap pendengar. Untaian kata-katanya yang lembut, jelas dan tepat semakin menjadi daya tarik tersendiri bagi semua orang. Kata-katanya penuh ilmu dan hikmah. Bahkan candanya sekalipun tak kosong dari ilmu dan hikmah. Sehingga kesempatan bisa duduk dan ngobrol dengannya menjadi kesenangan tersendiri bagi saya.
Sangat gemar membaca, tak jarang setelah seharian kuliah ia sering ditemukan asyik menikmati buku-buku di Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK). Full aktivitas, kegiatannya hampir tak terputus dan tanpa henti. Kendati demikian ia tidak pernah kehilangan kesempatan shalat berjamaah di mesjid, takbir pertama bersama imam. Walau sibuk, ia tak lupa menyempatkan diri bermesraan dengan mushâf saku yang selalu ia bawa. Ia selalu tampak kuat, bersemangat dan bisa menyelesaikan setiap pekerjaan dengan baik. Kebaikan yang ada pada dirinya mendorong saya untuk ingin lebih dekat mengenalnya. Saya ingin mengetahui apa yang menjadi rahasia kekuatan semangat, ketenangan dan kejernihan hati dan pikirannya.
Menurut salah seorang teman yang tinggal serumah dengannya, bahwa ia sering kedapatan menangis. Ya, ia sering ditemukan terisak menangis. Ketika ditanya kenapa ia menangis, ia berkata, "Akhi, kita hidup di dunia hanya sebentar, kematian datang kapan saja, setiap amal kita akan dihisab dan saya tidak tahu apakah kelak di akhirat saya akan tergolong menjadi ahli sorga ataukah neraka."
Suatu kali ketika shalat subuh berjamaah, saya berdiri di sampingnya. Dan saat itu imam membaca ayat, "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang. Maka dia akan berteriak, "celakalah aku". Dan dia akan masuk kedalam api yang menyala-nyala(neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira dikalangan kaumya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya." (Al-Insyiqâq: 10-15 ). Saya mendengar ia menangis sejadi-jadinya, saya seakan-akan mendengarkan air mendidih dari rongga dadanya.
Seusai shalat, saya melihat tangisan itu masih membekas di wajahnya. Hatinya begitu lembut, begitu mudah tersentuh dengan Al-Qur`ân.
Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulu kita, para Al-Salafus Sâlih. Menurut suatu riwayat, jika mengerjakan shalat subuh, Umar Ra. sering membaca surat Al-Kahfi, Thaha dan surat-surat lain yang sama panjangnya dengan surat itu. Pada saat itulah Umar Ra. sering menangis sehingga tangisannya terdengar ke barisan belakang. Pada suatu ketika dalam shalat subuh , Umar Ra. membaca surat Yusuf, ketika sampai pada ayat, "Sesungguhnya hanya pada Allah saya mengadukan kesusahan dan kesedihanku. " ( Yusuf : 86 )
Umar Ra. menangis terisak-isak sehingga suaranya tidak lagi terdengar ke belakang. Terkadang dalam shalat tahajudnya Umar Ra. membaca ayat-ayat Al-Qur`ân sambil menangis sehingga ia terjatuh dan sakit. Inilah perasaan takut pada Allah seorang yang apabila disebut namanya saja, akan menggetarkan dan membuat takut hati raja-raja besar.
Rasulullah Saw. bersabda, "Akar dari kebijaksanaan adalah takut kepada Allah."
Suatu hari Rasulullah Saw. melewati seorang sahabat yang sedang membaca Al-Qur`ân, ketika sahabat tadi sampai pada ayat, "Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah seperti kulit yang merah." (Ar-Rahman: 37), maka bulu pembaca tadi berdiri tegak dan dia menangis terisak-isak dan berkata, "Aduh, apakah yang akan terjadi pada diriku apabila langit terbelah pada hari kiamat? Sungguh malang nasibku." Nabi berkata padanya, "Tangisanmu membuat para malaikat ikut menangis bersamamu."
Abdullah bin Rawahah salah seorang sahabat Rasulullah Saw., pada suatu hari menangis dengan sedihnya, melihat keadaan itu istrinya pun turut menangis bersamanya. Dia bertanya pada istrinya, "Kenapa engkau menangis?" istrinya menjawab, "Apa yang menyebabkan engkau menangis, itulah yang menyebabkan saya menangis." Abdullah berkata, "Ketika saya ingat bahwa saya harus menyeberangi neraka melalui shirat, saya tidak tahu apakah saya akan selamat atau tidak."
Rasulullah Saw. bersabda : "Wajah yang dibasahi air mata karena takut pada Allah walaupun sedikit akan diselamatkan dari api neraka." Beliau juga bersabda, "Jika seseorang menangis karena takut pada Allah maka dia tidak akan masuk neraka, seperti tidak mungkinnya air susu masuk kembali ke putingnya."
Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw., "Adakah diantara pengikut-pengikutmu yang akan masuk surga tanpa hisab?", "Ia" jawab Nabi. "Dia adalah orang yang banyak menangis karena menyesali dosa-dosa yang telah ia lakukan."
Dalam kesempatan lain Rasulullah Saw. bersabda, "Ada dua jenis tetesan yang sangat disukai oleh Allah, tetesan air mata karena takut pada-Nya dan tetesan darah karena perjuangan di jalan-Nya."
Sungguh masih banyak lagi riwayat yang menjelaskan penting dan bermanfaatnya menangis karena takut pada Allah Swt. sambil menyesali dosa-dosa dan mengingat kebesaran Allah. Dan kisah-kisah diatas adalah suatu teladan bagi kita.
Ternyata air mata tidak selamanya menjadi simbol kelemahan, di dalamnya justru terdapat kekuatan, ada daya rubah yang luar biasa. Dengannya banyak pekerjaan besar bisa diselesaikan secara optimal. Terutama saat-saat bersama Al-Qur`ân, disaat sendiri mengingat dosa dan kesalahan.
Marilah kita melihat diri kita yang bergelimang dengan noda dan dosa, diri yang tidak pernah merasa takut dengan siksa Allah. Mata yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah menangis karena takut pada Allah. Dan mari kita hitung, sampai detik ini, sudah berapa kali air mata kita menetes karena takut pada Allah? Karena mengingat dosa-dosa dan kesalahan kita dan karena mengingat siksa-Nya. Wallâhul musta`ân wa a`lam
Jumat, 22 Juli 2011
ramadhan telah tiba
Bagi setiap muslim yang beriman ini adalah bulan yang ditunggu tunggu yaitu bulan yang penuh keajaiban dan ampunan, bila ada seorang mukmin yg tidak senang akan datangnya bulan ini maka perlu dipertanyakan adanya,,,,, heeem bulan apa ya kira kira? ya bulan Ramadhan yang berkah.
di bulan ramadhan ini kita kembali diterpa, kita kembali menjadi seekor kepompong yang menahan dari segahal duniawi,pertama dari seekor ulat yang menggelikan menjijikan di hina dan di basmi, dia dengan sabar mengikuti siklusnya, hingga mencapai titik ujiannya di dalam kepompong yg pasrah dalam segala hal apa yang akan terjadi padanya, dan jika ia mampu melewatinya maka ia akan jadi kupu - kupu yang indah. itu sama halnya dengan bulan ramadhan bagi kita yang mampu menahan maka ia akan jadi mukmin yang sejati, tapi makna menahan disini bukan hanya menahan saJA.
memang ketika ramadhan semangat untuk beribadah seolah mewabah di mana-mana karena memang itulah salah satu keistimewaan bulan yang satu ini. Tapi hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa sedari awal tujuan adanya bulan ramadhan dan serentetan ibadah yang ada di dalamnya adalah mencetak "kalangan manusia paling elit" dalam pandangan Alloh SWT yakni manusia taqwa. Saya kok yakin bahwa manusia taqwa itu bukan hanya hasil akhir saja tapi sebuah proses yang panjang dan tentu mengalami pasang surut. Adalah sesuatu yang (tidak) mungkin bahwa "kalangan manusia paling elit" bisa dicapai "hanya dalam waktu" satu bulan saja.
Kalau anda merasa bahwa setelah ramadhan kali ini anda sudah menjadi manusia taqwa maka mungkin anda perlu sedikit merenung. Menurut saya pribadi bahwa taqwa itu adalah sesuatu ke-istiqomah-an dan tidak seperti gelar dalam bidang pendidikan yang bisa diperoleh dalam waktu sekian tahuan maka taqwa ini memerlukan waktu yang tidak pasti (atau mungkin bahkan seumur hidup harus terus diusahakan). Kembali ke masalah istiqomah, maka biasanya hal ini mayoritas mengacu pada sesuatu yang kecil karena "sangat sedikit" manusia yang bisa istiqomah dalam melaksanakan ibadah dalam volume dan kualitas yang besar. Okelah, hal kecil tapi istiqomah itu juga memiliki keistimewaan tersendiri di hadapan Alloh SWT. Bahkan terompah Bilal sudah ada di surga "hanya karena" Bilal rajin sekali melaksanakan sholat sunah sehabis wudhu. Dan banyak juga kisah sahabat Nabi SAW yang sudah dapat "tiket" ke surga karena ibadah yang "kecil itu", tapi dijalankan dengan ke-istiqomah-an. Seperti pepatah sejak jaman SD, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit....
di bulan ramadhan ini kita kembali diterpa, kita kembali menjadi seekor kepompong yang menahan dari segahal duniawi,pertama dari seekor ulat yang menggelikan menjijikan di hina dan di basmi, dia dengan sabar mengikuti siklusnya, hingga mencapai titik ujiannya di dalam kepompong yg pasrah dalam segala hal apa yang akan terjadi padanya, dan jika ia mampu melewatinya maka ia akan jadi kupu - kupu yang indah. itu sama halnya dengan bulan ramadhan bagi kita yang mampu menahan maka ia akan jadi mukmin yang sejati, tapi makna menahan disini bukan hanya menahan saJA.
memang ketika ramadhan semangat untuk beribadah seolah mewabah di mana-mana karena memang itulah salah satu keistimewaan bulan yang satu ini. Tapi hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa sedari awal tujuan adanya bulan ramadhan dan serentetan ibadah yang ada di dalamnya adalah mencetak "kalangan manusia paling elit" dalam pandangan Alloh SWT yakni manusia taqwa. Saya kok yakin bahwa manusia taqwa itu bukan hanya hasil akhir saja tapi sebuah proses yang panjang dan tentu mengalami pasang surut. Adalah sesuatu yang (tidak) mungkin bahwa "kalangan manusia paling elit" bisa dicapai "hanya dalam waktu" satu bulan saja.
Kalau anda merasa bahwa setelah ramadhan kali ini anda sudah menjadi manusia taqwa maka mungkin anda perlu sedikit merenung. Menurut saya pribadi bahwa taqwa itu adalah sesuatu ke-istiqomah-an dan tidak seperti gelar dalam bidang pendidikan yang bisa diperoleh dalam waktu sekian tahuan maka taqwa ini memerlukan waktu yang tidak pasti (atau mungkin bahkan seumur hidup harus terus diusahakan). Kembali ke masalah istiqomah, maka biasanya hal ini mayoritas mengacu pada sesuatu yang kecil karena "sangat sedikit" manusia yang bisa istiqomah dalam melaksanakan ibadah dalam volume dan kualitas yang besar. Okelah, hal kecil tapi istiqomah itu juga memiliki keistimewaan tersendiri di hadapan Alloh SWT. Bahkan terompah Bilal sudah ada di surga "hanya karena" Bilal rajin sekali melaksanakan sholat sunah sehabis wudhu. Dan banyak juga kisah sahabat Nabi SAW yang sudah dapat "tiket" ke surga karena ibadah yang "kecil itu", tapi dijalankan dengan ke-istiqomah-an. Seperti pepatah sejak jaman SD, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit....
Langganan:
Postingan (Atom)